Jika Ada Wanita Berjilbab yang Berperilaku Buruk. Ingatlah, yang Buruk Itu Bukan Jilbabnya, Namun Adalah Perilaku Orang yang Memakainya itu Sendiri.



"Jika ada wanita berjilbab yang berperilaku buruk. Ingatlah, yang buruk itu bukan jilbabnya, namun adalah perilaku orang yang memakainya itu sendiri."

Rasanya miris sekali saat banyak orang yang berkomentar ketika ada seorang wanita berjilbab yang diberitakan berkelakuan buruk , lalu menganggap semua wanita berjilbab itu mungkin seperti itu juga. Padahal memang perilaku dan semua perbuatan itu memang tergantung diri kita masing-masing. Entah seperti apa pakaiannya, entah seperti apa gayanya, entah seperti apa lagi pendidikannya. Jadi, tentu kita sudah paham. Bahwa sampul atau cover itu, memang tak selalu sesuai isi bukunya. Namun juga jangan salahkan covernya, mentang-mentang ada sebuah buku yang bersampul namun ternyata isinya buruk. Eh malah kita menganggap semua buku yang bersampul itu buruk. Hehehe tentu bukan begitu.

"Siapapun bisa berperilaku buruk, siapapun bisa berperilaku baik. Jangan bandingkan wanita berjilbab yang berkelakuan buruk, dengan wanita tak berjilbab yang berperilaku baik. Itu memang perbandingan yang tidak seimbang."

Aneh lagi bagi kita yang malah membandingkan sosok wanita berjilbab yang berkelakuan buruk, dengan wanita tak berjilbab namun berkelakuan baik. Tentu hasilnya akan jelas berbeda, karena kita malah membandingkan sampul dengan sebuah isi. Kalau mau banding-bandingin ya yang setara saja, yang baik dengan yang baik. Namun, buat apa toh sebenarnya kita membanding-bandingkan seseorang. Tentu diri kita juga rasanya tidak begitu suka dibanding-bandingkan. Mending memang lebih suka berkaca sendiri, mungkin penampilan dan pribadi kita sendiri yang lebih perlu dikomentari.

"Jika engkau mengatakan : Lebih penting sikapnya yang baik daripada berjilbab tetapi berkelakuan buruk. Mengapa tidak berpikir sederhana seperti ini saja : Lebih baik lagi bisa berjilbab dan juga berkelakuan baik pula."

Ada lagi yang sinis rasanya, begitu pedas terdengar rasanya. Menganggap tentang perbandingan lebih penting mana dan mana. Lalu kebetulan saja ada wanita berjilbab yang berkelakuan buruk, eh dikomentari dengan begitu eksis. Oh lebih baik memang sikapnya daripada penampilannya saja. Kelihatannya komentar seperti itu sih benar-benar saja. Memang sikap itu penting, tetapi bukankah penampilan itu juga penting. Bisa jadi kita sudah berpikir terlalu singkat dan praktis. Menganggap bahwa sebuah buku tanpa sampul yang isinya cerita motivasi, itu lebih baik daripada buku bersampul bagus namun ceritanya malah cerita porno. Sederhana saja, memang hal itu benar. Namun mengapa kita tidak ingin menjadi sebuah buku bersampul dan juga berisi cerita motivasi. Bukankah itu lebih bagus???

"Jika kita berkata sinis : Oh berjilbab saja kelakuannya seperti itu!!!. Bagaimana jika kita dibalas pertanyaan yang lebih sinis lagi : Apalagi yang tidak berjilbab???"

Seringkali banyak yang share dan membagikan sebuah berita dari seorang wanita berjilbab yang berkelakuan buruk atau kurang pantas. Sambil memberikan quote-quote, berjilbab saja seperti itu, berjilbab kok gitu, ternyata jilbab juga begitu, dan lain-lain. Lalu bagaimana jika kita berpikir lebih ekstrim lagi, kalau yang berjilbab saja sudah seperti itu, apalagi yang tidak? kalau yang berjilbab saja sudah sedemikian itu? apalagi yang tidak. Tentunya jika kita berpikir ekstrim demikian, bisa jadi kita menganggap semua orang itu nantinya buruk. Seharusnya kita menyadari bahwa memang sebenarnya setiap orang itu berpotensi melakukan keburukan, setiap orang itu bisa berkesempatan berbuat tidak baik. Hehehe, karena setan juga akan menggoda siapa saja. Baik yang berjilbab, baik yang tidak, baik yang tertutup, baik yang terbuka. 

"Setiap keburukan itu bisa menggoda siapa saja. Jangan berpikir, jika orang yang sudah berjilbab itu sudah sangat suci dan sudah terhindar dari dosa. Mereka juga sedang berusaha, menjadi orang yang lebih baik dengan memakainya. Ingatlah juga, godaan setan itu juga berlaku untuk siapa saja."

Berjilbab itu bukan berarti telah menjadi orang yang suci sekali. Berjilbab bukan berarti seseorang itu telah berubah sepenuhnya dari yang buruk menjadi sangat baik sekali. Berjilbab itu bukan pula menandakan bahwa seseorang itu akan terjamin bisa berbuat kebaikan selalu. Ingatlah bahwa berjilbab itu tentang sebuah proses, dimana mereka yang mau berjilbab sedang berusaha menjadi orang baik. Jadi yang namanya berusaha itu ya ada yang sukses, ada pula yang belum sukese. Lain lagi ceritanya dengan orang-orang yang berjilbabnya hanya formalitas atau sekadar gaya-gayaan saja. Tentu hasilnya akan berbeda, mungkin disinilah letak perbedaannya. Jadi, saat ada berita yang buruk yang dilakuan wanita berjilbab. Maka hal itu bukan salah jilbabnya, berjilbab itu baik kok. Hal yang tidak baik itu ya kelakuannya sendiri.

"Berjilbab atau tidak, jika kita mencari-cari keburukan seseorang tentu akan ketemu juga. Berjilbab atau tidak, setiap orang pernah berbuat khilaf dan salah. Namun yang paling salah mungkinlah adalah diri kita yang mengetahui keburukan seseorang, atau mendengar keburukan orang. Eh lalu malah membesar-besarkannya, membagikan beritanya, mengkoar-koarkannya di media, lalu berkomentar sok suci seolah kita adalah orang yang paling baik didunia."

0 Response to "Jika Ada Wanita Berjilbab yang Berperilaku Buruk. Ingatlah, yang Buruk Itu Bukan Jilbabnya, Namun Adalah Perilaku Orang yang Memakainya itu Sendiri."

Post a Comment

BERLANGGANAN GRATIS VIA EMAIL

Dapatkan Artikel Terbaru Dari AJP Creations Melalui Email Anda. Jangan lupa cek kotak masuk di emailnya untuk mengaktifkan fitur pengiriman, setelah klik berlangganan di bawah ini.