Filosofi Cermin - Melihat Pribadi Diri Sendiri Harus Lewat Orang Lain


"Mata kita tidak bisa melihat semua bagian dari tubuh kita, kita butuh cermin untuk bisa melihat seperti apa diri kita."

Dengan berbagai alat atau sudut pandang, kita bisa saja mencoba menilai diri kita sendiri. Menilai seperti apa diri kita menurut pemahaman kita sendiri. Namun memang alat atau sudut pandang kita itu memang seperti cermin, cermin yang tidak bisa memperlihatkan semua yang kita ingin lihat. Ada berbagai sisi dari diri kita yang tidak bisa kita nilai sendiri. Karena kita tidak bisa melihatnya, atau memang sisi itu hanya bisa dilihat oleh orang lain. Hal itu karena memang kita hidup tidak bisa berdiri sendiri, tidak semua hal bisa kita ketahui. Walaupun itu yang ada pada kita sendiri. Memang diri kita butuh orang lain, untuk bisa menilai diri kita.

"Cermin bisa memperlihatkanmu berbagai bagian dari tubuh kita, namun tidak semuanya bisa kita lihat. Ada memang bagian dari tubuh yang tidak bisa kita lihat dengan satu cermin saja."


Untuk bisa melihat hampir semua bagian dari tubuh tentu tidak hanya butuh satu cermin, kita butuh lebih banyak cermin. Hingga cahaya dan bayangannya bisa dipantulkan ke segala arah. Kita memang tidak hanya percaya kepada satu orang saja. Ada beberapa sudut pandang yang harus kita tanyai. Hal itu jika memang kita ingin mendengar pendapat orang lain dari diri kita. Mata kita hanya bisa melihat ke depan, tidak bisa melihat ke belakang. Cermin yang berada di depan pun tidak bisa memperlihatkan sisi kita yang belakang. Maka kita butuh cermin lagi untuk melihat sisi belakang kita. Ada sudut pandang lain yang perlu kita dengar untuk mengerti seperti apa sebenarnya sisi lain diri kita.

Omongan-omongan orang lain terhadap kita itu adalah cerminan diri kita. Diri kita menurut orang lain, diri kita menurut sudut pandang mereka. Jadi terkadang memang ada berbagai omongan tentang diri kita. Entah itu enak kita dengar atau sebaliknya. Kita bisa saja menjadi terheran dan kaget dengan pernyataan-pernyataan mereka tentang kita. Seolah itu bukanlah diri kita. Kita bisa saja protes, namun memang itulah kenyaaannya. Lebih bijak jika kita mencoba memahaminya, apakah yang dikatakan orang-orang terhadap kita itu benar atau tidak adanya. Hal itubisa menjadi bahan koreksi bagi diri kita untuk semakin memperbaiki dirinya. 

Memang untuk melihat bentuk fisik yang kita miliki, maka kita bisa menggunakan cermin. Tetapi untuk mengetahui seperti apa perilaku kita,  maka kita perlu mendengar apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita. Sekalipun kita telah menganggap diri kita adalah orang yang baik, belum tentu orang lain setuju tentang itu. Karena mereka lah yang merasakan seperti apa kehadiran kita bagi bagi mereka. Mereka yang mengerti manfaat dan akibat atas semua perbuatan dan tingkah laku kita. Seberapa menyenangkan diri kita terhadap orang lain. Seberapa kita menjengkelkan bagi mereka juga. Di depan kita orang lain bisa penuh senyum, namun di belakang juga bisa saja banyak mengomentari kita. Ataupun tentang sebaliknya, komentar di depan namun di belakang malah mengagumi. Terpenting memang untuk melihat diri kita secara keseluruhan, maka kita butuh orang lain untuk berpendapat. Kita yang mau menerima kritik dan saran dari orang lain.

0 Response to "Filosofi Cermin - Melihat Pribadi Diri Sendiri Harus Lewat Orang Lain"

Post a Comment

BERLANGGANAN GRATIS VIA EMAIL

Dapatkan Artikel Terbaru Dari AJP Creations Melalui Email Anda. Jangan lupa cek kotak masuk di emailnya untuk mengaktifkan fitur pengiriman, setelah klik berlangganan di bawah ini.